Cara Membatik

21 May

78.jpg

Seni batik pada dasarnya merupakan seni lukis dengan bahan: kain, canthing dan malam sebangsa cairan lilin. Canthing biasanya berbentuk seperti mangkuk kecil dengan tangki (pegangan) terbuat dari kayu atau bambu dan bermoncong satu atau lebih. Canthing yang bermoncong satu untuk membuat garis, titik atau cerek, sedangkan canthing yang bermoncong beberapa (dapat sampai tujuh) dipakai untuk membuat hiasan berupa kumpulan titik-titik.

Masih bertahannya seni batik sampai jaman moderen ini, tidak dapat dilepaskan adanya kebanggaan, adat tradisi, sifat religius dari ragam hias batik, serta usaha untuk melestarikan pemakai batik tradisional dan tata warna tradisional. Dilihat dari proses pembuatannya ada batik tulis dan batik cap. Dengan semakin berkembangnya motif dan ragam hias batik cap, mengakibatkan batik tulis tradisional mengalami kemunduran. Hal ini dapat dimengerti sebab batik tulis secara ekonomis harga relatif mahal dan jumlah pengrajin batik tulis semakin berkurang.

Sekarang ini ada beberapa daerah yang masih dapat dikatakan sebagai daerah pembatikan tradisional. Daerah yang dimaksud antara lain: Surakarta, Yogyakarta, Cirebon, Indramayu, Garut, Pekalongan, Lasem, Madura, Jambi, Sumatera Barat, Bali dan lain-lain.

Surakarta atau Surakarta Hadiningrat juga dikenal dengan nama Solo merupakan ibukota kerajaan dari Karaton Surakarta Hadiningrat. Surakarta merupakan pusat pusat pemerintahan, agama dan kebudayaan. Sebagai pusat kebudayaan Surakarta tidak dapat dilepaskan sebagai sumber seni dan ragam hias batiknya. Ragam hias batik umumnya bersifat simbolos yang erat hubungannya dengan filsafat Jawa-Hindu, misalnya :

a) Sawat atau hase sayap melambangkan mahkota atau perguruan tinggi.

b) Meru gunung melambangkan gunung atau tanah

1) c) Naga ular melambangkan air (tula atau banyu)

2) d) Burung melambangkan angin atau dunia atas

3) e) Lidah api melambangkan nyala api atau geni

4) Penciptaan ragam hias batik tidak hanya memburu keindahannya saja, tetapi juga memperhitungkan nilai filsafat hidup yang terkandung dalam motifnya. Yang dalam filsafat hidup tersebut terkandung harapan yang luhur dari penciptanya yang tulus agar dapat membawa kebaikan dan kebahagiaaan pemakainya. Beberapa contoh :

5) a. Ragam hias slobong, yang berarti agak besar atau longgar atau lancar yang dipakai untuk melayat dengan harapan agar arwah yang meninggal dunia tidak mendapat kesukaran dan dapat diterima di sisi Tuhan Yang Maha Esa.

6) b. Ragam hias sida mukti, yang berarti jadi bahagia, dipakai oleh pengantin pria dan wanita, dengan harapan agar pengantin terus-menerus hidup dalam kebahagiaan.

7) Dengan demikian dapatlah dinyatakan bahwa ragam hias dalam seni batik aturan dan tata cara pemakainya menyangkut harapan pemakainya. Disamping itu, khusus di Karaton Surakarta, ragam hias batik (terutama kain batik) dapat menyatakan kedudukan sosial pemakainya, misalnya ragam hias batik parang rusak barong atau motif lereng hanya boleh dipakai oleh raja dan putra sentana. Bagi abdi dalem tidak diperkenankan memakai ragam hias tersebut.

8) Seni batik bagi Karaton Surakarta merupakan suatu hal yang penting dalam pelaksanaan tata adat busana tradisional Jawa, dan dalam busana tradisional ini kain batik memegang peranan yang cukup penting bagi pelestarian dan pengembangan seni budaya jawa kedepan

9) Kain Batik Tertentu Dipercaya Daya Gaib Kepada Pemakainya.

10) Jangan sembarang memakai batik, motif batik tertentu dipercaya memberikan kekuatan pada pemakainya. Maka si pemakai juga bukan orang sembarangan, batik jenis itu disebut batik larangan.

11) Batik larangan banyak tersebar di Yogyakarta, Surakarta dan Cirebon. Di tiga daerah itu ada karaton yang dihuni oleh para Sultan. Disana batik berperan penting dalam upacara tradisional karaton. Pelbagai motif khusus masih diakui menjadi milik karaton antara lain : Kawung Parang, Cemukiran, Udan Liris dan Alas-Alasan.

Fungsi batik :

Fungsi batik sebenarnya adalah untuk motif “dekorasi”/hiasan pada pakaian baik lelaki maupun perempuan, Pada awalnya semua bahan pakaian yang terbuat dari alam, baik dari serat tumbuhan, maupun hasil dari binatang, berwarna sesuai dengan warna aslinya. Misal yang dari serat tumbuhan berwana agak keputih-putihan sesuai dengan warna seratnya; kapas, kapuk, serat nenas, serat kulit pohon dsb. Demikian yang dari binatang, loreng kalau dari kulit harimau, putih kalau dari bulu domba, keperakan kalau dari benang sutra dan sebagainya. Setelah dikenal warna pencelupan (aslinya dari warna bebatuan/tanah liat dan getah kulit pohon) maka yang awalnya polos putih, lalu diberi warna hitam, coklat dengan getah pohon (mahoni misalnya) merah, biru dll dengan mineral tanah.
Karena kurang puas dengan warna polos maka mulailah manusia mencari motif lain, seperti diberi coretan-coretan gambar, tetap dengan memakai warna dasar mineral tanah, atau getah tumbuhan, misal dengan gambar binatang, alam, dan sebagainya. Untuk orang Asia tenggara motif-motif gambar tercetus dari gambar alam.alat-alat sehari yang dipakai atau/dan binatang menggunakan pewarna tetap dari alam, dan dengan bantuan lilin, mereka menciptakan batik tersebut, digambar secara berulang-ulang sehingga tercipta “lukisan” batik pada kain yang akan dibuat baju. Sekarang dengan kemajuan tehnologi pewarnanya telah beralih ke bahan kimia walaupun bahan dasarnya tetap memakai lilin (malam). Batik tidak hanya dikenal di Indonesia, di Thailand, Kamboja, Malaysia juga mengenal batik dengan pola mereka masing-masing (hanya untuk negara Jiran Malaysia, karena penduduknya banyak juga yang berasal dari Indonesia, mereka lalu banyak mengakui bahwa batif motif jawa yang dibuat oleh orang dari Jawa, tekadang diakui bahwa itu asli kreasi Malaysia asli). Tapi dalam perkembangannya, bati Indonesia lebih berkembang (terutama di Jawa) dibanding negara Asia Tenggara lainnya. Pada tahun 50 – 80 an Thailand dan Kamboja banyak mengimport batik dari Jawa. Tapi sekarang mereka juga mengembangkan batik nya sendiri.
Jadi sekarang batik merupakan identifikasi karya suatu bangsa, selain tentu saja untuk hiasan pakaian agar tampil beda. Kalau anda ikut konfrensi internasional, lalu anda memakai baju batik, tentu mereka akan “melirik” kagum pada anda

Jenis batik yang digunakan :

*** Kawung*** :

Corak ini bermotif bulatan mirip buah kawung (sejening kepala) yang ditata rapi secara geomatris. Palang hitam-hitam dalam bulatan diibaratkan biji kawung untuk orang Jawa, biji itu lambang kesuburan.

Motif kawung juga bisa diinterprestasikan sebagai gambar lotus (teratai) dengan empat lembar daun bunga yang merekah. Lotus melambangkan umur panning dan kesucian.

Beberapa variasi kawung adalah ceplok, truntum dan sidomukti. Salah satu variasi lain tumbal, diperuntukkan kaum brahmana dan cendekiawan.

Makna dari motif yang digunakan :

Motif ini bergambar nama bunga pohon aren (buah kolang-kaling). Bathik kawung berbentuk geometris segi empat didalam pengartian kebudayaan jawa melambangkan suatu ajaran tentang terjadinya kehidupan manusia.

Pada awalnya bathik kawung ini dipakai dikalangan keluarga kerajaan, tetapi setelah Mataram terbagi dua corak, ini dikenakan golongan yang berbeda. Di Surakarta motif ini dipakai oleh golongan Punokawan dan Abdidalem jajar priyantaka, didalam tokoh pewayangan, motif kawung ini dipakai oleh Semar, Gareng, Petruk & Bagong.

Ragam motif batik Kawung:

1. Bathik Kawung Picis yang diambil dari nama uang pecahan sepuluh sen.

2. Bathik Kawung Bribil yang diambil dari nama uang pecahan dua puluh lima sen.

3. Bathik Kawung Sen yang diambil dari nama uang pecahan satu sen. Makna corak ini adalah bahwa kehidupan ini akan kembali kepada alam sawung. Maka didalam tradisi dahulu motif ini dipakai untuk penutup orang meninggal.

Alat alat yang digunakan untuk memuat batik :

– Pensil ( untuk pola )

– Kain

– Bidangan

– Canting

– Wajan

– Kompor minyak

– Minyak tanah

– Pewarna Naftol

– Garam Diasol

– Cotton bud

Cara cara membuat batik :

1) Gambal pola yang diinginkan dengn pensil di sebuah karton , kemudian salin / jeplak ke kain .

2) Sesudah mebuat pola , proses pemalaman dengan menggunakan canting dan bidangan agar memudahkan agar tidak mudah rusak.

3) Sesudah proses pemalaman , yaitu proses pewarnaan. Caranya naftol dicampur air panas , sedangkan garam diasol dicampur air dingin . Cara pewarnannya warnakan garam diasol menggunakan cotton bud kemudian pewarnaa naftol , caranya sama seperti garam diasol.

4) Ketika semua pola yang rumit sudah di warnai , baru warna dasarnya. Caranya meredamkan ke cairan garam diasol , baru naftol. Jangan diperas.

5) Setelah selesai pewarnaan dijemur.

6) Setelah kering , barulah proses perolotan malam. Caranya kain direbus di air mendidih jangan matikan kompor. Angkat dan jemur kembali.

Pendapat :

– Orang tua ( ibu ) : lumayan lah , tidak terlalu jelek dan warna yang digunakan sesuai dengan motifnya

– Amborowati ( teman sebangku ) : bagus , tapi ada sedikit kekurangan kekurangan

Kesan :

Kesan saya adalah saya jadi bisa mengetahui seberapa sulitnya membuat batik , sehingga batik begitu berharga bagi Indonesia. Dan belajar menghargai batik J .

———————————- Selesai—————————–

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: